Rumah abu Pecinan, sejak 1980

4 Jun

Altar berisi foto dan abu leluhur pertama Marga Liem

BANGSA yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarah bangsanya. Pemikiran Untoro Wibisono, pria peranakan Cina, nampaknya sejalan dengan Jargon khas milik Bung Karno yang terkandung dalam Jas Merah (Jangan Lupakan Sejarah). Generasi ke tiga Marga Liem ini rela menghabiskan bilangan milyaran rupiah untuk membeli sederet Ruko di Jalan Pasar Besar demi mempertahankan Rumah Abu Marga Liem, yang dibangun pertama kali oleh sang kakek, Liem Liang Hwa, tahun 1890.

“ Jika rumah itu saya jual, atau dipugar untuk Ruko (Rumah Toko) maka apalagi yang saya punya untuk mengetahui dari mana saya berasal. Rumah Abu itu adalah rumah pertama kakek saya, generasi Liem pertama yang datang dari Tiongkok tahun 1980 silam,” kata Untoro Wibisono, cucu dari Liem Liang Hwa.

Rumah Abu itu tersembunyi dengan baik dibelakang deret Ruko Pasar Besar antara Nomor 153 hingga 163. Bagian depan Rumah adalah Ruko Pecinan LPG serta tempat hiburan malam Flame yang kini dikelola oleh dua putra Untoro. Sebuah pagar pintu kayu sebagai akses utama ke teras rumah terapit diantara Pecinan LPG dan juga Flame. ” Rumah ini tidak pernah tersentuh renovasi yang merubah bentuk, keramik, atap dan semua pilar serta ruangan dan daun pintu didalamnya tak pernah berubah sejak 1890. Tekel keramiknya di import dari Belanda. Hanya cat dan kaca jendela yang saya perbaharui. Kaca yang dulu jelek, kena angin saja bisa dherr, pecah,” tutur nya.

Satu diantara tiga pintu besar di teras rumah

Pada bagian teras rumah terdapat tiga pilar kayu berukir menopang atap teras dengan kokoh. Pada bagian lantai terhampar keramik lawas berwarna dasar kuning tua dengan motif bintang bersegi 8 tampak bersih dari debu dan terawat. Tiga buah pintu katu berdaun ganda berukuran tinggi berjajar megah sebagai akses penghubung antara teras rumah hingga ke bagian dalam. Masuk kedalam, sebuah altar menyerupai meja kayu mengisi selasar ruang utama dibagian tengah. Di atasnya terdapat dua foto pemilik sekaligus pendiri Rumah Abu pertama, Liem Liong Hwa dan istri Kweo Kiauw Nio. Di depan foto terdapat guci berisi abu dekat dengan tempat dupa dan lilin merah.

“Rumah Abu itu tidak pernah saya tempati. Di dalamnya ada abu gogrokan abu dupa saat ritual sembahyang jenazah kakek dan nenek saya. Mereka tidak di kremasi, tapi dimakamkan. Dulu makam awalnya di Kuto Bedah (Muharto), tapi karena lokasi makam dirubah jadi perumahan makam mereka kami pindah ke Makam Sukun. Abunya kami tambah dengan beras setiap Imlek,” terang pria berusia 66 tahun ini.

Ahli Sejarah Universitas Negeri Malang, M Dwi Cahyono menyebut Rumah Abu itu bergaya Cina-Eropa. Menilik tahun berdirinya, usianya juga tidak terpaut jauh dengan Masjid Jami’ Alun-alun yang dibangun sekitar 1875, atau terpaut sekitar 15 tahun dengan Masjid terbesar di Kota Malang. ” Dilihat dari pintu dan jendela dengan daun ganda, rumah itu menganut ciri khas Cina, sedangkan pilar berukir serta atap khusus itu seperti bangunan Eropa,” ujarnya.

20 Tahun Runut Silsilah

Usaha Untoro untuk mempertahankan silsilah tidak berhenti di Rumah Abu saja. Selama 20 tahun mantan pengusaha Kembang Api Cap Srimpi ini merunut garis keturunan Marga Liem hingga saat ini. Bukan hanya kepuasan yang didapat, tetapi juga banyak kekecewaan ikut menyertai. ” Tidak semua keturunan gembira dan mau mempertahankan dan mengenal saudara semarga, banyak juga yang cuek dan enggan untuk terlibat. Mereka takut malah direpoti dan tidak mau menambah pengeluaran lain untuk kumpul-kumpul,” ucapnya sambil menghela nafas dengan panjang. Buku setebal satu buku jari berisi silsilah marganya pun menjadi saksi kekecawaan sekaligus kepuasannya.

Soal materi Bapak dua anak ini rela mengeluarkan miliaran rupiah untuk mempertahankan rumah leluhurnya itu. Sekitar lima tahun lalu, salah satu kerabatnya tiba-tiba menjual rumah tanpa sepengetahuannya pada sebuah pemborong yang hendak meratakan lingkungan disekitar rumahnya untuk sebuah pusat perbelanjaan baru. Untoro lantas membeli deret Ruko disekitar rumahnya dari pemborong itu demi mempertahankan Rumah Abu leluhurnya agar tidak berpindah tangan.

Jendela berdaun ganda

” Kakek saya datang ke Malang dari Tiongkok sebagai pengrajin dan pedagang Kembang Api bersama beberapa rekan lain. Pabrik Kembang Api Srimpi akhirnya jadi usaha turun temurun hingga saya tutup beberapa tahun lalu. Kami terpaksa tutup karena tak kuat berkompetisi dengan Kembang Api import asal cina yang harganya sangat murah. Asal usul saya ada dirumah itu, beruntung anak tertua saya mau mengurusnya kelak,” ujarnya penuh syukur.

THR dari mana?

4 Sep

Ini kan tanda kita berteman

Masak THR dan parsel dari teman di tolak

Ini bujetnya dari kami sendiri, seperti sedekah saja.

Saya biasa menyumbang seperti ketika saya bersedekah di SDI Sabilillah Malang

Tempat anak saya sekolah

Sepenggal ajakan itu dialamatkan pada rekan saya seorang wartawan yang mencoba istiqomah tidak menerima Parcel dan THR di tahun ini. Oknum itu adalah seorang Kasi di salah satu instansi penegak hukum di Kota Malang. Di meja sang Kasi, terserak selembar kertas bertulis sederet nama wartawan yang masuk daftar penerima Parcel di lebaran kali ini. ” Ini tidak semua wartawan yang dapat. Hanya beberapa saja seperti tahun lalu, teman-teman yang jelas saja,” lanjutnya terus merayu.

Continue reading 

3 hati dua dunia satu cinta

17 Jul

MALANG – Seorang pria berhidung mancung berkulit putih dan berambut kribo sedang menari Zapin, tarian milik peranakan Arab dengan tetabuhan khas Timur Tengah dan ditarikan oleh sekumpulan laki-laki. Namun siang kemarin Pria keturunan Arab bernama Rosid  itu sedang menari Zapin dengan Delia, seorang wanita bermata sipit dan mengenakan kalung dengan liontin bentuk Salib menggantung manis di leher jenjangnya.

mizan.com


Mata Delia yang diperankan oleh Laura Basuki terlihat sembab ditingkahi senyum yang kemudian mengembang di akhir tarian. Adegan antara Rosid yang diperankan oleh Reza Rahadian dan Delia menjadi penutup dalam film 3 Hati Dua Dunia Satu Cinta yang diputar dalam acara nonton bareng bersama Simpati Zone dan Telkomsel School Community (TSC) di Matos 21 Sabtu (10/7).

“peci adalah tradisi saja dan kesalehan tidak dilihat dari rambut,”

Continue reading 

Membaca cuaca

15 Jul

Ayahku dulu sering berkata untuk segera berhemat air

Langit biru dan hamparan rumput hijau, "what a legacy"

Ketika suara cenggeret mulai bernyanyi nyaring sepanjang hari

Katanya itu pertanda kemarau mulai datang menggantikan banjir

Dan air di sumur tua rumahku akan mulai menyusut berganti hari

Continue reading 

Bila Wartawan Jadi Dirut PLN

17 Jun
dahlan iskan (www.batamtoday.com)

dahlan iskan (www.batamtoday.com)

Beberapa minggu terakhir berita tentang usulan listrik gratis yang dilemparkan Dahlan Iskan Direktur Utama PLN cukup banyak mewarnai headline sejumlah media Nasional. Yang mengkritisi tidak tanggung-tanggung, tidak seperti isu bombastis yang lantas jadi bahan celaan LSM atau DPR dan DPRD walaupun hanya sesaat. Kali ini usulan mantan CEO group Jawa Pos News Network (JPNN) itu mengundang cibiran bahkan dari Menteri.

Ide brilian Dahlan, pria kelahiran Magetan berupa pembebasan biaya listrik untuk warga miskin. Seperti dilansir Kompas.Com, Dahlan mengusulkan rumah tangga dengan konsumsi listrik sebesar 450 Kw/h yang ditaksirnya sebanyak 20 juta pelanggan di Indonesia. Dengan gamblang dia pun menyebutkan untung ruginya dengan kebijakan ini, pemerintah akan kehilangan pemasukan Rp 1,5 T sekaligus peningkatan pendapatan hingga Rp 20 T dari pembayaran listrik masyarakat lain.

“Saya serius. Yang miskin gratis saja, sudah kami cetuskan di DPR kemarin. Pemerintah belum ada tanggapan, dikira saya guyon. Saya serius,” kata Dahlan

Untuk mengutarakan usul ini ternyata tidak mudah. “Saya serius. Yang miskin gratis saja, sudah kami cetuskan di DPR kemarin. Pemerintah belum ada tanggapan, dikira saya guyon. Saya serius,” kata Dahlan dilansir Kompas.com. Tidak berhenti disini, esoknya masih muncul komen pedas yang sama dari kelompok wakil rakyat.

dilarang ngomong

Tak hanya mengkritisi mereka juga melarang Dahlan untuk memberikan komentar lain yang serupa. “Kami bingung dengan pernyataan Pak Dahlan. Salah-salah jadi provokator nanti. Anda kan Dirut PLN. Jangan jadi politisilah. Wewenang itu harus Anda pelajari lagilah agar tidak terulang lagi. Pernyataanya harus dicabut” tutur Alimin Abdullah dari Fraksi PAN.

Usai dewan terhormat, mantan wartawan yang mengawali karir dari surat kabar kecil di Kalimantan ini masih juga menerima tekanan. Kali ini datang langsung dari atasannya Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Darwin Zahedy Saleh. Tak sekedar menkrittis Darwin pun menjanjikan untuk menegur Dahkan karena menilai gagasannya adalah atas nama pribadi dan bukan sebagai Direktur Utama PLN. ” Akan saya tegur dia,” tegas Darwin melalui vivanews.

Continue reading 

Juara dan juara

27 May

Mesin Arema yang berhasil juara (foto habibie n muhammad for malang post)

Rabu (26/5) hari itu ternyata datang juga. Arema Indonesia berhasil menahan seri PSPS pekan Baru Riau dengan skor akhir 1-1 hingga peluit terakhir ditiup wasit. Peluit itu lantas mengakhiri paceklik juara yang sangat panjang,sekitar 17 tahun lamanya, setelah liga Galatama di tahun 1993 sebagai liga tertinggi di kancah sepakbola nasional berhasil di taklukan Arema.

Bahkan hasil akhir seri sangat bagus dari kebanyakan prediksi bahwa Arema sulit menang terutama karena faktor cuaca yang sangat panas. Dan dengan hasil ini praktis tim berjuluk Singo Edan ini menjadi jawara di Liga Super Indonesia 2010, dan pasti kemenangan Arema adalah kemenangan Warga Malang, pastinya juga kemenangan Malang Post sebagai Korane Arek Malang.

Lembur dengan riang

Tak ada kemenangan yang tanpa dibarengi keringat dan kerja keras. Seperti itupula gambaran kantor redaksi Malang Post ketika hari kemenangan itu tiba. Kami, seluruh awak Redaksi kebagian berbagai penugasan spontan untuk rubrik-rubrik khusus menyambut kemenangan Arema. Pasti, lembur kerja pun jadi kewajiban bagi seluruh awak redaksi ini.

Jika lembur sering kali berakhir dengan berbagai keluhan, tampaknya berbeda sekali dengan Rabu malam itu. Seluruh awak dari Redaktur, Layout, dan Reporter bekerja dengan riang. Berbagai celotehan konyol dan lucu terdengar hampir sepanjang malam. Atribut Arema pun tak ketinggalan dikenakan oleh redaksi, bahkan beberapa kawan menyempatkan pergi berbelanja khusus atribut arema sebagai seragam wajib selama satu minggu. Satu minggu seragam Malang Post akan berubah menjadi Arema untuk merayakan kemenangan ini.

Yah..kali ini lembur tak terasa berat mengingat Malang Post juga ikut membesarkan Arema. Perjuangan satu tahun terakhir, dari 16 halaman beranjak menjadi 20 halaman sebagian besar selalu fokus pada Arema dan juga saudara sekota, Persema. Kini satu tahun itu berlalu sudah, dan Arema meuwujud juara bersama Malang Post yang tetap setia mengawal.

malang penuh dengan konvoi dan arak-arakan Aremania, sebagian besar konvoi berakhir di depan Patung Buto depan Stasiun Kota Baru

pemenang sebenarnya

Tahun ini sebenarnya cukup menggembirakan bagi saya, simpatisan bola yang tidakbanyak mengerti bola. Tim sepakbola Favorit jaman SMP juga berhasil menjuarai Liga Champion sekaligus melengkapi tiga piala miliknya, Champion, Coppa Italia dan juara Scudeto Italia, yakni si Nerazzuri Inter Milan. Kemenangan yang sebenarnya saya tunggu ketika ada Ronaldo, the god boy, didalamnya. Dan tentunya kemenangan arema, tim sepakbola dari kota saya.

Saya juga bisa lebih bangga, karena saya juga termasuk menang. Menang karna tidak marah diminta lembur prodeo, tersenyum karena kena macet akibat konvoi arema seharian, dan lagi-lagi harus tidak marah karena melihat dan merasakan ulah beberapa teman yang kebablasan senangnya. Selamat untuk Arema, selamat bagi seluruh Aremania…:).

Robert albert, Pilih hengkang dari Ajax

21 May

rumah keluarga Robert. Disini Robert Albert menghabiskan waktunya jika pulangke Belanda

Robert Rene Albert, pekatih Arema Indonesia Malang ternyata pernah memilih hengkang dari tim impian pemain sepak bola Belanda, Ajax Amsterdam.

Pilihan itu dilakukan kala Robert berusia sekitar 21 tahun. Karena merasa tidak berkembang dan sering dibangku cadangkan, Robert memilih memutus kontrak di tengah jalan. Ibunya,Helen Albert yang mendukung keputusan Robert merelakan tabungan pensiunnya untuk membayar penalti Robert kala itu.

” Itu adalah keputusan yang penuh emosional, karena jika Robert keluar dari Ajax, dia pun akan segera hengkang meninggalkan kami,” kata Leone Rosita.

Robert pergi meninggalkan Belanda ke Kanada, dan sejak itu karirnya terus melambung tinggi hingga menjadi super head coache di Arema Indonesia.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.