Bila Wartawan Jadi Dirut PLN

17 Jun
dahlan iskan (www.batamtoday.com)

dahlan iskan (www.batamtoday.com)

Beberapa minggu terakhir berita tentang usulan listrik gratis yang dilemparkan Dahlan Iskan Direktur Utama PLN cukup banyak mewarnai headline sejumlah media Nasional. Yang mengkritisi tidak tanggung-tanggung, tidak seperti isu bombastis yang lantas jadi bahan celaan LSM atau DPR dan DPRD walaupun hanya sesaat. Kali ini usulan mantan CEO group Jawa Pos News Network (JPNN) itu mengundang cibiran bahkan dari Menteri.

Ide brilian Dahlan, pria kelahiran Magetan berupa pembebasan biaya listrik untuk warga miskin. Seperti dilansir Kompas.Com, Dahlan mengusulkan rumah tangga dengan konsumsi listrik sebesar 450 Kw/h yang ditaksirnya sebanyak 20 juta pelanggan di Indonesia. Dengan gamblang dia pun menyebutkan untung ruginya dengan kebijakan ini, pemerintah akan kehilangan pemasukan Rp 1,5 T sekaligus peningkatan pendapatan hingga Rp 20 T dari pembayaran listrik masyarakat lain.

“Saya serius. Yang miskin gratis saja, sudah kami cetuskan di DPR kemarin. Pemerintah belum ada tanggapan, dikira saya guyon. Saya serius,” kata Dahlan

Untuk mengutarakan usul ini ternyata tidak mudah. “Saya serius. Yang miskin gratis saja, sudah kami cetuskan di DPR kemarin. Pemerintah belum ada tanggapan, dikira saya guyon. Saya serius,” kata Dahlan dilansir Kompas.com. Tidak berhenti disini, esoknya masih muncul komen pedas yang sama dari kelompok wakil rakyat.

dilarang ngomong

Tak hanya mengkritisi mereka juga melarang Dahlan untuk memberikan komentar lain yang serupa. “Kami bingung dengan pernyataan Pak Dahlan. Salah-salah jadi provokator nanti. Anda kan Dirut PLN. Jangan jadi politisilah. Wewenang itu harus Anda pelajari lagilah agar tidak terulang lagi. Pernyataanya harus dicabut” tutur Alimin Abdullah dari Fraksi PAN.

Usai dewan terhormat, mantan wartawan yang mengawali karir dari surat kabar kecil di Kalimantan ini masih juga menerima tekanan. Kali ini datang langsung dari atasannya Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Darwin Zahedy Saleh. Tak sekedar menkrittis Darwin pun menjanjikan untuk menegur Dahkan karena menilai gagasannya adalah atas nama pribadi dan bukan sebagai Direktur Utama PLN. ” Akan saya tegur dia,” tegas Darwin melalui vivanews.

angel warase

Bisa saja kata-kata Darwin benar. Sebab di Malang penolakan dan ketidak sepahaman itu terlihat sangat jelas ketika saya menghubungi seorang direksi PLN, Santjoko Asisten Manager Area dan Pelayanan PLN Malang. ”Loh kan sudah dicabut itu mbak idenya Pak Dahlan. Sudah tidak ada persiapan untuk listrik gratis,” kata Santjoko ketika saya ingin konfirmasi tentang kesiapan Malang jika ide ini direalisasi.

Lucunya kata-kata itu diucapkan dengan nada seolah lega dan konfirmasi itu diberikan beberapa hari bertepatan dengan rilis dari menteri ESDM. Sebelumnya Santjoko sangat susahhhh (biar mantepp) untuk ditemui.

Karena berakhir dengan tidak jadi tentu saja caya kecewa, bukan saja karena ide dari bos perusahaan saya yang ditolak, tapi ide yang sangat nyata dan sangat meringankan bagi warga miskin itu akan lenyap begitu saja. Tak berlanjut dan tak jadi setidaknya rancangan untuk nyata mungkin. Tapi seorang kawan reporter memprediksi ide Dahlan tak kan berhenti disini. “ Ya begitulah jika wartawan jadi redaktur. Pasti pikirannya selalu seperti itu, untuk rakyat dan berbeda dengan birokrat, angel warase,” katanya.

Advertisement

Tags: , ,

7 Responses to “Bila Wartawan Jadi Dirut PLN”

  1. Yogo Pradana June 17, 2010 at 4:38 pm #

    Pak Dahlan yang terhormat,de bapak sangat baik bagi masyarakat miskin, tapi yang penting sekarang adalah benahi dulu manajemen internal PLN yang masih amburadul dan benahi pelayanan pada konsumen karena pada kenyataannya banyak masyarakat yang mengeluh atas pelayanan PLN karena sering adanya pemadaman listrik secara tiba tiba tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, hal ini sangat merugikan masyarakat selaku konsumen.

    • dyah ayu pitaloka June 20, 2010 at 11:47 am #

      swippp, iyo mas yoga. manajemen pemadamanya emang gak aturan. tapi kalo ditanya sudah pemberitahuan blm? merka jawab sudah kan pasang iklan di media massa, trus kalo dikejar kenapa gak lewat telpon masing2? kan gak setiap orang baca koran? dia bilang pembengkakan di anggaran dong, logis tidak?. trus pemadaman itu krna dayanya kurang, untuk pengadaan lagi2 dia bilang gak ada anggaran buwat beli mesin yang APIKK buatan EROPA. padahal dulu Dahlan juga pernah usul, knapa tidak beli yang buatan CINA aja, walaupun murah kalo emang kemampuannya segitu…

  2. anta kusuma June 19, 2010 at 10:51 am #

    Yup,tidak hanya bekas wartawan yg bisa kritis terhadap sebuah kebijakan.Dan Pro rakyat miskin bukan berarti harus menggratiskan segalanya.Membenahi masalah internal itu lebih utama.Jika sudah beres,pasti output kebijakannya juga bagus.Dan tentunya akan berkelanjutan.Tidak hanya sesaat,abis itu ganti kebijakan yg membingungkan rakyat lagi.

    • dyah ayu pitaloka June 20, 2010 at 11:44 am #

      iyuppp, ure so rightt ta. tapi argumen penolakan mereka itu tidak jelasloh, sebenernya banyak kemungkinan Listrik kita jauhh lebih murah dari ini. Misalnya dengan kemungkinan bikin PLTS, tenaga surya gitu??tapi PLN toh gak mau ngembangin, takut keuntungannya berkurang mungkin?

  3. jojoraharjo June 22, 2010 at 12:01 pm #

    percaya tidak…

    sekitar 7 taon lalu, dahlan iskan pulang malam dari kantor di graha pena, ia ngajak nginap 2 wartawannya di rumah kendangsari, termasuk mas roy radar malang kuwi. pagi hari mereka jalan kaki dari kendagsari menuju ke graha pena, a yani, wuih adoh kuwi, bisa 20 km

    di jalan menuju kantor terlihat kabel-kabel listrik yang ngelewer, jatuh tak terawat. Dahlan bilang ke wartawannya, “Lihat itu PLN, betapa tak efisiennya mereka. coba berapa kerugiannya kalo begini terus..”

    (cerita ini disampaikan mas roy suatu malam ketika kami begadang bersama di hotel elmi)

    dan kini,orang yang mengkritik PLN itu jadi direktur..

  4. jacko agun June 23, 2010 at 8:15 am #

    sayang, jika usulan om Dahlan ini sampai berhenti di tengah jalan. Padahal, jika di itung-itung jumlah pengguna listrik 450 watt sekarang ini tentunya semakin berkurang, karena daya segitu sudah tidak mencukupi untuk kebutuhan rumahtangga. Sehingga jangan heran jika tiap-tiap rumah sekarang ini, kebanyakan daya listriknya 900 atau 1300 watt. Bahkan tak sedikit yang lebih besar dari itu.

  5. arzivamaulana July 2, 2010 at 2:18 am #

    Dah sering ngeliat di tipi..kreatifitas anak bangsa untuk menghasilkan sumber energi baru…kemarin di SCTV ada daerah di jkt yang dah memanfaatkan energi sampah sebagai energi listrik…dan banyak lagi kreatifitas lainnya..tapi kenapa ga’ pernah ditindaklanjuti pemerintah ya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.