Ayahku dulu sering berkata untuk segera berhemat air
Ketika suara cenggeret mulai bernyanyi nyaring sepanjang hari
Katanya itu pertanda kemarau mulai datang menggantikan banjir
Dan air di sumur tua rumahku akan mulai menyusut berganti hari
Dia juga mulai bawel soal sampah dan gundukan daun yang memenuhi selokan
Ketika pohon rambutanku mulai penuh dengan putik daun dan pentil buah
Dia bilang hujan sudah di belokan depan
Tinggal selangkah untuk mengusir debu kering menjadi tanah basah
Kini celoteh dibagian itu hampir tak terdengar lagi
Sama seperti hilangnya suara cenggeret dan hutan bambu di belakang rumah
Tak ada omelan menyebalkan disetiap Oktober pagi
Seiring dengan lenyapnya pohon rambutanku, berganti dengan atap rumah kakakku
Kurasa ayahku bukannya kapok ngomel tentang cuaca
Seperti dia mulai kapok makan emping sekarang
Tidak juga karena tiga anaknya telah beranjak menua
Sama seperti rambutnya yang semakin jarang
Mungkin karena prediksi cuaca murah diobral Televisi
Rambutan juga ada setiap hari di kebun swalayan
Tak ada dan tak perlu cenggeret lagi
Yang kini lebih mudah dijumpai di dalam televisi
Seharusnya jangan pernah berhenti ngomel Ayah
Aku merasa takut kelak akan lupa cara membaca cuaca seperti yang kau ajarkan
Aku takut anak-anakku kelak tak bisa membaca lagi Yah
Membaca dengan mencecap setiap abjad dari alam dan kehidupan
Malang 14 Juli 2010, 21:50 WIB
Tags: prediksi cuaca, puisi cuaca

pentil buah? hahaha
yeahh, mesti sing ngunu2 gampang mbok guyu yo.., sangat mudah tertebak…:p, endi updatetanmu???
bagus kok pit puisimu, cuma bukan styleku saja