THR dari mana?

4 Sep

Ini kan tanda kita berteman

Masak THR dan parsel dari teman di tolak

Ini bujetnya dari kami sendiri, seperti sedekah saja.

Saya biasa menyumbang seperti ketika saya bersedekah di SDI Sabilillah Malang

Tempat anak saya sekolah

Sepenggal ajakan itu dialamatkan pada rekan saya seorang wartawan yang mencoba istiqomah tidak menerima Parcel dan THR di tahun ini. Oknum itu adalah seorang Kasi di salah satu instansi penegak hukum di Kota Malang. Di meja sang Kasi, terserak selembar kertas bertulis sederet nama wartawan yang masuk daftar penerima Parcel di lebaran kali ini. ” Ini tidak semua wartawan yang dapat. Hanya beberapa saja seperti tahun lalu, teman-teman yang jelas saja,” lanjutnya terus merayu.

daftar hadir

Daftar nama itu terketik rapi di atas kertas berwarna hijau yang lekat dengan warna simbol instansi sang Kasi. Disamping nama ada kolom untuk tanda tangan bagi masing-masing wartawan yang telah mengambil ‘hak’nya. ‘’ Disini tidak ada anggaran untuk parcel dan THR, tapi kami semua iuran untuk memberikan bingkisan selama lebaran,” lanjutnya lagi. Seorang staff di seksi yang sama pun ikut menimpali, ” Pak Kasi ini memang suka sedekah. Saya saja juga kecipratan dan langsung diantar ke rumah saya, lakok tidak mau nerima iku pie,’ katanya dengan nada sedikit memaksa.

Merasa terus dipepet wartawan yang juga rekan saya itu menjawab sambil mesam – mesem, “ saya hanya ingin istiqomah pak, kita toh tetap berteman tanpa harus ada parcel dan THR,” katanya sambil tetap cengar cengir. Mungkin menolak THR dan Parcel adalah sebangsa agama baru bagi kawan saya. Saya juga ikut heran, kalau hanya sedekah kenapa juga harus bertanda tangan setelah mengambil parcel.

Tentang THR dan Parcel memang sudah jadi barang jamak bagi profesi apapun menjelang lebaran. Khusus bagi wartawan setiap instansi seolah berlomba untuk menyediakan THR bagi kawan-kawan mereka, sang kuli tinta. Seperti yang juga dilakukan kesekretariatan sebuah rumah rakyat di Malang. Untuk itu sang staff kesekretariatan bertanya pada saya pada sebuah percakapan di Sabtu sore,

Staff: ” Namanya sampeyan sudah masuk di daftar yang diserahkan Pak Bhi tah,”

Saya: Daftar apa pak, THR? (karena sebelumnya kami berbincang tentang THR)

Staff: Iya, mosok ga boloan sak wartawan?

Saya: waduh, ga eruh aku pak

tak ada bujet

Setelah itu saya sempat bertanya tentang sumber anggaran THR dan Parcel dari instansinya khusus untuk para wartawan yang saya rasa jumlahnya bisa sampai belasan orang itu. “ Kalau pos khusus dari APBD ya tidak ada mbak, tapi yo di onok-onokno lah. Ga ngerti tekok opo anggarane,” katanya tidak jelas dan juga terdengar seram.

Lain hari saya sempat ngobrol dengan seorang jaksa di lingkungan kejaksaan Malang tentang sumber anggaran THR khususnya bagi wartawan. Dia bilang tak ada pos untuk itu di APBD. “Hati-hati kalau menerima amplop dari instansi, terutama dari bagian keuangan. Itu pasti di rekap dan dimasukan dalam bukti pengeluaran, padahal tidak ada anggaran untuk itu dalam APBD” katanya. Dia pun membeberkan, pada salah satu kasus dugaan korupsi yang sedang dilidik di tempatnya, ada bukti sejumlah anggaran yang diturunkan pada wartawan yang secara rutin mengambil di instansi yang diduga korup itu. ” Daftare onok, ada tanda tangannya juga. Kalau dijadikan bukti di persidangan kira-kira wartawannya bisa dipecat tidak itu sama kantornya,” tanyanya pada saya. Kujawab saja dengan enteng dan sok tau, “mbuh yo, sing jelas gurung onok wartawan dipecat gara-gara ketemon ngamplop ndik kene,” jawabku sekenanya.

Advertisement

Tags: , ,

11 Responses to “THR dari mana?”

  1. jojo September 5, 2010 at 12:21 am #

    tulisan ini bagus, muatan lokalnya juga kental. Layak untuk di -MIDI- kan, seperti tulisan terbaru di blogku yang juga ku – MIDI – kan dan juga disebar di note FB

    Sukses, Pit…

  2. Arziva Maulana September 9, 2010 at 2:47 pm #

    keep on movin’…semakin tersudut :(

    • dyah ayu pitaloka September 10, 2010 at 3:35 am #

      hahaha…maksute opo lin? iki crita saja tentng temanku, tidak ada maksud sudut menyudutkan.btw emang dirimu alih profesi jadi jurnalis “plat merah”??

  3. wahyu October 12, 2010 at 10:32 am #

    tulisan yang amat bagus. thanks ya Pit.

    • dyah ayu pitaloka October 25, 2010 at 4:40 pm #

      yang berat habis nulisnya mas..hahah, thanks apa ni mas komang?

  4. Hari Istiawan October 25, 2010 at 5:18 pm #

    apik iki…kok aku baru ngerti..ya, Dishare la..di blognya ajimalang…hee..

    • dyah ayu pitaloka October 31, 2010 at 3:38 pm #

      iyo mas, boleh boleh..tapi ntar aja lek ada posting baru, sing iki wes basi….wahhh..smpyan nandi ae…xixuxixuxiu..

  5. indramufarendra November 10, 2010 at 5:48 pm #

    endi tulisanmu sing anyar? kok gak up to date iki hehehe

  6. indramufarendra January 15, 2011 at 3:48 pm #

    Lebaran wis lewat… kok jek THR-an hahaha

    • dyah ayu pitaloka February 10, 2011 at 11:34 am #

      ckckckc..niat temen lek ngenteni uplodan anyarr…hahahaha.., kyoe ngitungi mur di jembatan suramadu topi yg baguss…krkrkrkr..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.