Archive | June, 2011

Rumah abu Pecinan, sejak 1980

4 Jun

Altar berisi foto dan abu leluhur pertama Marga Liem

BANGSA yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarah bangsanya. Pemikiran Untoro Wibisono, pria peranakan Cina, nampaknya sejalan dengan Jargon khas milik Bung Karno yang terkandung dalam Jas Merah (Jangan Lupakan Sejarah). Generasi ke tiga Marga Liem ini rela menghabiskan bilangan milyaran rupiah untuk membeli sederet Ruko di Jalan Pasar Besar demi mempertahankan Rumah Abu Marga Liem, yang dibangun pertama kali oleh sang kakek, Liem Liang Hwa, tahun 1890.

“ Jika rumah itu saya jual, atau dipugar untuk Ruko (Rumah Toko) maka apalagi yang saya punya untuk mengetahui dari mana saya berasal. Rumah Abu itu adalah rumah pertama kakek saya, generasi Liem pertama yang datang dari Tiongkok tahun 1980 silam,” kata Untoro Wibisono, cucu dari Liem Liang Hwa.

Rumah Abu itu tersembunyi dengan baik dibelakang deret Ruko Pasar Besar antara Nomor 153 hingga 163. Bagian depan Rumah adalah Ruko Pecinan LPG serta tempat hiburan malam Flame yang kini dikelola oleh dua putra Untoro. Sebuah pagar pintu kayu sebagai akses utama ke teras rumah terapit diantara Pecinan LPG dan juga Flame. ” Rumah ini tidak pernah tersentuh renovasi yang merubah bentuk, keramik, atap dan semua pilar serta ruangan dan daun pintu didalamnya tak pernah berubah sejak 1890. Tekel keramiknya di import dari Belanda. Hanya cat dan kaca jendela yang saya perbaharui. Kaca yang dulu jelek, kena angin saja bisa dherr, pecah,” tutur nya.

Satu diantara tiga pintu besar di teras rumah

Pada bagian teras rumah terdapat tiga pilar kayu berukir menopang atap teras dengan kokoh. Pada bagian lantai terhampar keramik lawas berwarna dasar kuning tua dengan motif bintang bersegi 8 tampak bersih dari debu dan terawat. Tiga buah pintu katu berdaun ganda berukuran tinggi berjajar megah sebagai akses penghubung antara teras rumah hingga ke bagian dalam. Masuk kedalam, sebuah altar menyerupai meja kayu mengisi selasar ruang utama dibagian tengah. Di atasnya terdapat dua foto pemilik sekaligus pendiri Rumah Abu pertama, Liem Liong Hwa dan istri Kweo Kiauw Nio. Di depan foto terdapat guci berisi abu dekat dengan tempat dupa dan lilin merah.

“Rumah Abu itu tidak pernah saya tempati. Di dalamnya ada abu gogrokan abu dupa saat ritual sembahyang jenazah kakek dan nenek saya. Mereka tidak di kremasi, tapi dimakamkan. Dulu makam awalnya di Kuto Bedah (Muharto), tapi karena lokasi makam dirubah jadi perumahan makam mereka kami pindah ke Makam Sukun. Abunya kami tambah dengan beras setiap Imlek,” terang pria berusia 66 tahun ini.

Ahli Sejarah Universitas Negeri Malang, M Dwi Cahyono menyebut Rumah Abu itu bergaya Cina-Eropa. Menilik tahun berdirinya, usianya juga tidak terpaut jauh dengan Masjid Jami’ Alun-alun yang dibangun sekitar 1875, atau terpaut sekitar 15 tahun dengan Masjid terbesar di Kota Malang. ” Dilihat dari pintu dan jendela dengan daun ganda, rumah itu menganut ciri khas Cina, sedangkan pilar berukir serta atap khusus itu seperti bangunan Eropa,” ujarnya.

20 Tahun Runut Silsilah

Usaha Untoro untuk mempertahankan silsilah tidak berhenti di Rumah Abu saja. Selama 20 tahun mantan pengusaha Kembang Api Cap Srimpi ini merunut garis keturunan Marga Liem hingga saat ini. Bukan hanya kepuasan yang didapat, tetapi juga banyak kekecewaan ikut menyertai. ” Tidak semua keturunan gembira dan mau mempertahankan dan mengenal saudara semarga, banyak juga yang cuek dan enggan untuk terlibat. Mereka takut malah direpoti dan tidak mau menambah pengeluaran lain untuk kumpul-kumpul,” ucapnya sambil menghela nafas dengan panjang. Buku setebal satu buku jari berisi silsilah marganya pun menjadi saksi kekecawaan sekaligus kepuasannya.

Soal materi Bapak dua anak ini rela mengeluarkan miliaran rupiah untuk mempertahankan rumah leluhurnya itu. Sekitar lima tahun lalu, salah satu kerabatnya tiba-tiba menjual rumah tanpa sepengetahuannya pada sebuah pemborong yang hendak meratakan lingkungan disekitar rumahnya untuk sebuah pusat perbelanjaan baru. Untoro lantas membeli deret Ruko disekitar rumahnya dari pemborong itu demi mempertahankan Rumah Abu leluhurnya agar tidak berpindah tangan.

Jendela berdaun ganda

” Kakek saya datang ke Malang dari Tiongkok sebagai pengrajin dan pedagang Kembang Api bersama beberapa rekan lain. Pabrik Kembang Api Srimpi akhirnya jadi usaha turun temurun hingga saya tutup beberapa tahun lalu. Kami terpaksa tutup karena tak kuat berkompetisi dengan Kembang Api import asal cina yang harganya sangat murah. Asal usul saya ada dirumah itu, beruntung anak tertua saya mau mengurusnya kelak,” ujarnya penuh syukur.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.